Kamis, 22 Desember 2011

HIZBUL WATHON PEDULI LINGKUNGAN

Tanggal 16 Desember 2011 yang lalu, murid-murid Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah Solokuro yang tergabung dalam kegiatan ekstrakurikuler Hizbul Wathon mengadakan kegiatan penghijaun. Kegiatan ini diisi dengan menanam berbagai jenis pohon di sepanjang jalan utama dari arah nGgesing menuju desa Solokuro. Jenis pohon yang ditanam merupakan jenis tanaman peneduh yang juga tanama produktif (buah-buahan) seperti Glodok, nanar, Matoa dan Sawo Kecik.

 
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh kepala MTs Muhammadiyah Solokuro bapak Achmad Amrozi. kegiatan diawali dengan penyerahan secara simbolis bibit tanaman kepada perwakilan siswa. Dalam sambutannya bapak kepala sekolah mengungkapkan pentingnya kegiatan ini diantaranya adalah memupuk kepedulian lingkungan bagi siswa dan siswi MTs Muhammadiyah Solokuro. Karena sudah mafhum apabila akhir-akhir ini bentuk kepedulian masyarakat terhadap lingkungan sangat memprihatinkan, lebih parah lagi seolah masyarakat kebanyakan cenderung berperilaku destruktif terhadap lingkungan, maka tidaklah mengherankan apabila isue lingkungan ini menjadi bagian isue besar dunia.

Tentu masih belum terhapus dari ingatan kita, betapa kepala negara dari seluruh dunia berkumpul di Bali baru-baru ini mereka tidak lain adalah membicarakan tentang issue besar lingkungan yaitu tentang perubahan iklim (climate change). kenapa lingkungan ini menjadi perhatian besar dunia? Perlu kita ketahui bersama bahwa bumi yang semakin tua ini juga semakin semakin panas, persediaan air menipis akibat eksplorasi yang tanpa batas. apa indikasinya? mencairnya es di kedua kutp bumi, naiknya air laut dan masih banyak indikasi lainnya. Bumi yang panas diakibatkan oleh rusaknya lapisan ozon (O3). Kenapa ozon bisa rusak (berlubang) dan apa ozon itu? 
Ozon merupakan lapisan yang melindungi (men-filter) sinar matahari yang menyinari bumi. Tanpa filterisasi ozon sinar matahari akan penuh dengan ultraviolet dan zat-zat berbahaya lainnya yang apabila sampai di bumi akan sangat membahayakan manusia. Nah, dengan berlubangnya lapisan ozon secara otomatis kemampuan untuk men-filter sinar matahari juga akan berkurang dan kompinen berbahaya dari sinar matahari akan masuk ke bumi yang akan membahayakan semua kehidupan yang ada di bumi termasuk manusia.
Apa yang menyebabkan lapisan ozon rusak? Yang pasti dan jelas adalah karena ulah manusia. Ozon rusak karena bumi semakin panas oleh asap kendaraan dan pabrik yang mengasilkan zat-zat berbahaya seperti carbon, CO (Carbon Monoksida) dll, ditambah lagi jumlah pepohonan yang semakin menipis. Pepohonan dan berbagai tanaman hijau berperan sangat penting untuk menyejukkan bumi serta menghasilkan gas oksigen (O2) dan air (H2O) yang sangat dibutuhkan oleh manusia dan berbagai makhluk lain di bumi.

Ketika pepohonan dan tanaman hijau berkurang serta ditambah dengan emisi gas dari kendaraan dan pabrik yang luar biasa itu akhirnya menimbulkan efek rumah kaca atau green hause effect di bumi. (Sebagai catatan efek rumah kaca ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan efek yang diakibatkan oleh rumah yang terbuat dari kaca ya...tapi adalah kondisi atmosfer bumi). Oleh karena itu, tanpa perlu ditunda lagi kita harus peduli pada lingkungan kita, lanjut kepala sekolah.

Kegiatan penghijauan yang  diikuti oleh  kurang lebih 60 peserta itu berlangsung pada jam 13.00 WIB Siang hingga jam 18 sore. Semoga dengan banyaknya kegiatan yang peduli akan lingkungan atau lebih sering dikenal sebagai GO GREEN ini akan menjadikan anak didik menjadi duta peduli lingkungan dan Solokuro kembali asri, hijau dan sejuk serta pastinya nyaman dan indah. Kalau tidak dari sekarang kapan lagi? kalau bukan kita siapa lagi? go ehead Hizbul Wathon MTs Solokuro.

Senin, 07 November 2011

Iedul Adha 1432 H


Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, momen hari Raya Iedul Adha 10 Dzulhijjah 1432 H tahun ini juga dilaksanakan secara meriah oleh seluruh kalangan umat Islam, tidak terkecuali masyarakat muslim di Solokuro. Walaupun tanpa kedatangan sanak family yang ada di rantau (yang tidak mudik lebaran) namun hari raya Iedul Adha tetap memiliki kesan tersendiri bagi kalangan masyarakat Solokuro, karena di hari raya inilah masyarakat menikmati makanan daging qurban bersama keluarga.


Jika dibandingkan dengan kondisi beberapa tahun yang lalu, hari Raya Iedul Adha bisa berarti merupakan moment terpenting dalam hal makanan. Karenan masyarakat bisa menikmati rasanya daging dalam satu tahun, sampai akan menikmati daging pada hari raya Iedul Adha tahun berikutnya. bisa dibayangkan, betapa daging merupakan makanan yang sangat istemewa bagi sebagian besar masyarakat Solokuro.


Namun itu adalah kejadian beberapa tahun yang lalu, disaat masyarakat Solokuro perekonomiannya belum semaju sekarang ini. Walaupun umumnya masyarakat Solokuro adalah petani yang memiliki hewan peliaraan namun jarang sekali mengkonsumsi hewan peliaraannya itu, melainkan hewan tersebut dijual untuk kebutuhan sehari-hari.


Pelaksanaan sholat Iedul Adha tahun ini sebagaimana tahun-tahun sebelumnya juga dilaksanakan di halaman gedung perguruan Muhammadiyah Solokuro. Selesai pelaksanaan Sholat, diumumkan jumlah hewan qurban yang disumbangkan oleh masyarakat Solokuro. Tahun ini warga muslim Solokuro yang melaksanakan sholat di lapangan Perguruan Muhammadiyah mendapatkan qurban 2 ekor sapi dan 23 ekor kambing. 


Seluruh hewan qurban tersebut selanjutnya disembelih dan dibagikan kepada masyarakat. Pelaksanaan penyembelian dan pengelolaan hewan qurban dilaksanakan secara bergotong royong dengan pembagian kerja yang berbeda. Ada yang bagian menyembelih biasanya dilakukan oleh para sesepuh atau tokoh-tokoh Muhammadiyah senior, bagian menguliti (nglulangi), motong tulang, nyuci brabas, menimbang dan bagian distribusi daging.



Kemeriahan Iedul Adha yang juga lazim disebut Iedul Qurban ini memang benar-benar membuktikan bahwa  qurban ini memiliki dua esensi ibadah sekaligus, yaitu disamping sebagai ibadah qashirah (individual) juga bernilai ibadah muta'addiyah (sosial). Semoga para kaum muslimin yang mendarmakan hewan qurban mendapatkan ganjaran dari Allah SWT serta masyarakat dapat berbahagia dengan menikmati kelezatan daging qurban bersama keluarga tercinta, amin.

Rabu, 26 Oktober 2011

MUSRAN DAN SPIRIT BARU ORGANISASI

Pada tanggal 15 Oktober 2011, Muhammadiyah Solokuro telah melaksanakan Musyawarah Ranting. Musyawarah Ranting ini memiliki peran strategis bagi keberlanjutan Muhammadiyah Solokuro ke depan. Diantara peran strategis Musran adalah pertama, sebagai ajang evaluasi dan koreksi tentang kinerja persyarikatan Muhammadiyah sehingga dapat memproyeksikan serta merumuskan langkah-langkah strategis Muhammadiyah di masa datang yang memiliki kompleksitas tantangan yang semakin berat, yang kedua, tentu regenerasi  kepemimipinan ditubuh Muhammadiyah Ranting Solokuro. 

Selama ini peran Muhammadiyah Solokuro diberbagai lini sudah tidak diragukan lagi. Peran paling menonjol tentu di dunia pendidikan. Muhammadiyah Solokuro begitu giat dalam mengembangkan pendidikan bagi seluruh masyarakat Solokuro , tidak hanya asal-asalan perguruan Muhammadiyah Solokuro telah menjelma menjadi lembaga yang begitu disegani karena kualitasnya sehingga menjadi lembaga pendidikan yang terpandang di daerah Solokuro dan sekitarnya. 

Dalam memajukan lembaga pendidikan ini Muhammadiyah tidak bisa terlepas dari peran serta dukungan (swadaya) masyarakat. Dengan kesadaran dan keikhlasan masyarakat Solokuro bau membahu untuk memajukan lembaga pendidikan ini dengan cara memberikan sumbangan semampu mereka. 

Selain di bidang pendidikan, peran Muhammadiyah pada kegiatan sosial juga tidak bisa dipungkiri mulai dari pengajian rutin sampai pengurusan jenazah. Peran Muhammadiyah pada sektor ini juga tidak bisa dianggap remeh, mengingat perkembangan dunia modern dengan berbagai seluk beluknya sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Solokuro. Kehadiran modernisasi dengan berbagai produk teknologi  dikalangan masyarakat Solokuro tentu sesuatu yang sangat menggembirakan, tetapi perlu diingat kehadiran teknologi juga acap kali menjauhkan nilai-nilai kemanusiaan dan ke-Ilahian, dan itu yang harus diantisipasi oleh Muhammadiyah Solokuro dalam melaksanakan misi keumatan-nya. 

Harapan dari kalangan masyarakat tentu dimasa datang peran Muhammadiyah diberbagai lini perlu ditingkatkan dan jika diperlukan keberadaan lembaga/ badan usaha sangat dibutuhkan urgensitasnya guna menopang perjuangan Muhammadiyah. Badan usaha ini akan bermakna penting untuk kemandirian dan independensi Muhammadiyah, disamping itu badan usaha ini nanti juga bisa memberdayakan ekonomi warga Muhammadiyah dan masyarakat Solokuro pada umumnya. 

Setidaknya ekspektasi ini berpulang pada para pengurus Muhammadiyah baru nanti. Hasil Musran Muhammadiyah Solokuro telah didapatkan 9 orang formateur, yaitu :  Bapak Ali Mahfud 2. Bapak. M Lazim 3. Bapak Lukman Hakim 4. Bapak Maulani. 5. Bapak M. Zainul  6. Bapak Abd. Hakim 7. Bapak M Syafi'i  8. Bapak Nurhadi  9. Bapak Mukran. 

Formateur ini nanti yang dipercaya untuk menyusun kepengurusan Muhammadiyah dalam satu periode kepengurusan, dan pada hari Rabo, 26 Oktober telah mufakat bahwa Bapak Lukman Hakim yang terpilih menjadi Ketua Umum Muhammadiyah Ranting Solokuro. 

Sedangkan dari organisasi otonom Muhammadiyah yaitu Aisyiyah  telah terpilih 9 orang yang ditetapkan sebagai formateur, yaitu : 1. Ibu Mardliyah 2. Ibu Munadliroh. 3. Ibu Sa'adah 4. Ibu Yuli 5.Ibu Aminatun 6. Ibu Hj Nafiyah 7. Ibu Tutik 8. Ibu Siti Hidayah 9.Ibu Khoiriyatin 

Acara Musran serta Musyawarah Aisiyah yang dihadiri oleh Pengurus Wilayah Muhammadiyah Jatim Prof.Dr Tohiir luth itu telah menghasilkan kepengurusan baru, semoga Muhammadiyah dan Aisiyah dapat lebih meningkatkan kiprah perjuangan untuk kemaslahatan umat. Semoga !!!

Senin, 10 Oktober 2011

HEBOH LIBUR LEBARAN 2011

Mungkin ini merupakan libur lebaran yang paling berkesan bagi kebanyakan orang desa Solokuro, sebuah desa kecil yang bermetamorfose menjadi kecamatan (pemekaran dari Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan). Bagaimana tidak, warga Solokuro khususnya warga Muhammadiyah memiliki hajatan besar dalam rangka Reuni Akbar memperingati 60 Tahun Perguruan Muhammadiyah Solokuro.

Kegiatan ini memiliki berbagai rentetan acara, diantaranya seminar ,lomba, pentas seni dan pengajian. Tetapi yang paling menarik dan menyita perhatian masyarakat hingga luar desa adalah Karnaval Alumni yang diikuti oleh alumni Madrasah Ibtida’iyah Muhammadiyah mulai angkatan 1969-2004.

Para alumni di setiap angkatan dengan beragam status dan profesi itu diwajibkan untuk menciptakan kreativitas mereka masing-masing. Ada salah satu angkatan yang memerankan sebagai kalangan dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Solokuro (IDS). Spesialis dokter yang mereka perankan-pun bermacam-macam dan lucu-lucu, seperti dokter spesialis panu, dokter spesialis, pegel linu dan lain-lain. Ada juga angkatan alumni yang memerankan sebagai para petani yang sedang membawa hasil panennya sambil berpayah-payah. Juga ada yang memunculkan kreativitas dengan memerankan tokoh-tokoh kunci pada film Sang Pencerah, ada yang menjadi Kyai Achmad Dahlan, Nyai Walida, Kyai Gede, Penghulu dan lain sebagainya.

Menarik memang, alumni Madrasah yang telah menyebar diberbagai kota dengan beragam profesi dan kesibukan, begitu appreciate dengan kegiatan karnaval tersebut. Disamping kehebohan yang luar biasa itu, kegiatan juga memiliki makna yang begitu dalam tentang jalinan ukhuwah dan persaudaraan sesama alumni Madrasah Ibtida’iyah Muhammadiyah Solokuro.  Mereka begitu bersatu padu, mengikis segala jenis skat dan perbedaan, tidak pandang kaya dan miskin, dokter dan para buruh, petani dan para pejabat, wong jatenan dan pengusaha kaya, wong Malaysiaan dan wong ngrakalan, semua larut dalam hiruk pikuk kegiatan karnaval. Saking semangatnya sebelum kegiatan karnaval para alumni tiap angkatan telah sibuk untuk melakukan pertemuan-pertemuan awal. Tak ayal, speaker mushollah bapak Mukran pun sering kali bergema dengan pengumuman pertemuan-pertemuan itu.

Kehebohan semakin menjadi-jadi menjelang hari H. para alumni yang telah menjadi ibu dan bapak itu hilir mudik ke tetangga kanan dan kiri untuk meminjam kostum karnaval. Ada yang sibuk menghias topi tani, membuat kostum badut, ada yang sibuk mendesain dan menkonsep nama-nama yang diperankan, ada yang membongkar jas atau baju using bapak dan ibu mereka, ada yang sibuk mencari blankon, jubah serta berbagai kelengkapan karnaval lainnya.


The Show begins
Tiba hari H, satu persatu kontingen berdatangan di gedung perguruan Muhammadiya. Dipandu oleh bapak Muhammad Rufi’I, para kontingen tiap angkata mendapatkan nomor urut karnaval. Dimulai dari angkatan yang paling senior berturut-turut ke level yang lebih yunior.

Masih di area gedung Perguruan Muhammadiyah, derai tawa-pun membahana tatkala masing-masing kontestan bertemu. Mereka bahkan ada yang terpingkal-pingkal menyaksikan peran antar angkatan. Bahkan ada yang saling ledek  untuk menunjukkan keunggulan kreatifitas kelompoknya masing-masing. Walaupun demikian semua itu berlangsung dalam suasana yang sangat akrab dan penuh nuansa persaudaraan.


Saking akrabnya serta suasana yang mirip dengan masa ketika waktu masih bersekolah di Madrasah Muhammadiyah beberapa puluh tahun yang lalu, berbagai memori tentang masa-masa MIM pun muncul kembali. Seperti bagaimana pada saat kami angkata ’90 menikmati kebersamaan 21 tahun yang lalu. Ingatan kami ketika harus bangun pagi dan pergi ke lapangan nDandu Sigar untuk berolahraga dengan bimbingan Bapak Muzahri, bagaimana bu Suntami yang mengajar Qur’an dan Hadist di kelas satu dan dua serta mengajar ketrampilan di kelas enam, pelajaran Nahwu dan Shorof yang diajarkan oleh alm. Bapak Aman Mu’min serta berbagai dinamika pengajarannya, yang tidak kalah seru adalah ketika kami menjumpai guru TK kami, ibu Kadartik yang selama tiga tahun dengan kesabarannya ‘mengemong’ dan mendidik kami ketika ibu dan bapak kami pergi ke lading. Begitu lewat di depan rumah beliau, secara spontan kami bersalaman satu per satu, tentu disertai dengan ingatan masa kecil dan ucapan terimakasih yang tulus. Bu Dar yang terlihat masih awet muda itu-pun tak hayal memunculkan celetukan diantara kami “bu..kok empun kalah tuwo kale murite niki…” yang artinya bu sudah kala tua nich sama muridnya, ungkapan yang menyatakan bahwa bu Dar masih sama seperti dulu.